Loading...

Mbah Guru Matematika: Ketika Mengajar Tak Kenal Pensiun

Diterbitkan pada
6 Juli 2025 17:00 WIB

Baca

Siapa sangka, di balik akun TikTok @mbahgurumatematika yang kini ramai dikunjungi ribuan pelajar, ada sosok sepuh bersahaja yang duduk di depan papan tulis kecil, menjelaskan soal demi soal matematika dengan tenang, sabar, dan penuh dedikasi?

Dialah Drs. Melan Achmad, atau yang akrab disapa Mbah Guru Matematika. Lahir pada tahun 1945, pria asal Purworejo, Jawa Tengah, ini telah menghabiskan lebih dari lima dekade hidupnya untuk mengajar matematika. Ia memulai karier sebagai guru pada tahun 1970 di Aceh, sebelum akhirnya pindah dan menetap di kampung halamannya, menjadi pendidik hingga pensiun pada tahun 2003 dengan golongan terakhir 4B.

Namun, bagi Mbah Melan, pensiun hanyalah status administratif. Jiwa pendidik di dalam dirinya tak pernah benar-benar berhenti. Pada usia 79 tahun, ia justru memulai kembali perjuangannya mengajar dari tempat yang sama sekali baru: layar ponsel. Lewat bantuan anaknya, Mbah Guru mengenal platform TikTok dan mulai membagikan siaran langsung pembelajaran matematika. Awalnya, ia ingin mengajar melalui video pendek, namun jumlah penontonnya minim. Lalu anaknya menyarankan untuk mencoba live. Dari situlah perjalanan barunya dimulai.

Sehari dua kali, pagi dan malam ia mengajar dari rumah kontrakannya di Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo. Dengan papan tulis seadanya, spidol hitam, dan kamera ponsel, ia menyampaikan materi-materi matematika secara runut dan mudah dipahami. Tak ada efek suara, tak ada gimmick. Hanya seorang guru dan ketulusan untuk berbagi ilmu.

Dari siaran yang tampak sederhana itu, kini akun TikTok @mbahgurumatematika telah diikuti lebih dari 1 juta orang, dan kontennya disukai lebih dari 7,5 juta kali. Jumlah pengikutnya melonjak signifikan setelah Mbah Guru diundang oleh Deddy Corbuzier dalam podcast Close The Door. Sejak saat itu, ruang kelas Mbah Guru makin luas, dari ujung barat hingga timur Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.

Yang membuat Mbah Guru begitu disukai bukan hanya karena ilmunya, tapi karena pendekatannya yang sabar dan menyentuh. Banyak siswa merasa terbantu, bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka baru memahami materi matematika setelah menyimak penjelasannya. Mbah Guru menjadi sosok alternatif di tengah konten edukasi serba cepat dan penuh efek. Ia hadir apa adanya, namun justru itulah yang membuatnya luar biasa.

Dedikasi Mbah Guru akhirnya mendapatkan pengakuan nasional. Pada peringatan Hari Guru Nasional 29 November 2024, Drs. Melan Achmad menerima Anugerah Guru Hebat langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam acara yang digelar di Istana Negara, beliau menerima piagam penghargaan, uang tunai sebesar Rp100 juta, serta sebuah laptop untuk mendukung aktivitas mengajarnya secara daring. Sebuah momen yang menjadi simbol bahwa ketulusan dalam mengajar tak pernah luput dari perhatian. Dalam sambutannya, Mbah Guru memberikan pesan yang menyentuh.:

“Untuk guru, cintai anak didik, cintai ilmu yang diajarkan. Dengan guru hebat, negara kuat. Untuk murid, jangan takut kesulitan, terutama matematika. Terus belajar.” Pesan yang datang dari pengalaman panjang, dan diucapkan dengan kesederhanaan seorang guru sejati.

Kisah Mbah Guru Matematika adalah pengingat bagi kita semua bahwa mengajar bukan sekadar profesi, tapi panggilan jiwa. Ia membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk terus berbagi ilmu, dan bahwa teknologi bisa menjadi sahabat bagi siapa saja, asal disertai niat baik.

Ilmu tidak mengenal batas. Tak perlu ruang kelas yang mewah atau studio canggih. Terkadang, cukup sebuah papan tulis kecil, spidol hitam, dan hati yang tulus untuk menjangkau ribuan orang. Dari kapur ke kamera, dari ruang tamu ke layar ponsel, hingga akhirnya ke Istana Negara, Mbah Guru membuktikan bahwa semangat mengajar sejati akan selalu menemukan jalannya.